Siswanto Kharisma

Seorang Web desain dan Programer - dari Mekar Mulya

Belajar Menulis, Berani Jelek Dulu

Belajar Menulis, Berani Jelek Dulu

Saya pernah duduk di depan laptop dengan niat menulis, lalu menghabiskan waktu cukup lama hanya untuk memikirkan kalimat pertama. Sudah diketik, dibaca lagi, kemudian dihapus. Rasanya ada saja yang kurang pas. Terlalu kaku, terlalu biasa, atau malah terdengar seperti sedang memberi sambutan. Padahal, saya cuma ingin bercerita. Dari situ saya sadar, kadang yang bikin susah memulai bukan karena nggak punya ide, melainkan karena ingin langsung terlihat pandai.
Kalau dipikir-pikir, saya cukup sabar saat belajar membuat website. Ketika kode error, saya mau mencari penyebabnya dan mencoba lagi. Tapi begitu urusannya menulis, baru satu paragraf terasa berantakan saja saya sudah ingin menyerah.

Lucu juga, ya. Saya bisa menerima kalau program pertama belum berjalan dengan benar, tetapi berharap tulisan pertama langsung enak dibaca. Sepertinya saya perlu memberi kesempatan yang sama kepada diri sendiri untuk belajar.
Sekarang saya mencoba menulis dulu apa yang sedang terpikir, meskipun kalimatnya belum rapi. Kadang ada kata yang berulang, ceritanya ke mana-mana, atau satu paragraf ternyata nggak punya hubungan dengan paragraf berikutnya. Ya sudah, saya biarkan sebentar. Setelah ada isinya, barulah saya baca ulang dan benahi pelan-pelan. Buat saya, merapikan tulisan yang sudah ada terasa lebih ringan daripada terus menatap halaman kosong sambil menunggu kalimat yang sempurna.

Saya juga mulai mencari bahan tulisan dari hal-hal yang dekat. Misalnya, kejadian saat membuat blog ini, kesalahan kecil yang bikin pekerjaan jadi lama, atau rasa senang ketika tombol yang kemarin bermasalah akhirnya berfungsi. Mungkin ceritanya biasa saja bagi orang lain, tetapi saya tahu bagaimana rasanya karena mengalaminya sendiri. Itu membuat saya lebih mudah bercerita. Saya nggak perlu berpura-pura menjadi orang yang tahu segalanya; cukup menjelaskan apa yang sedang saya pelajari.

Tentu saja, berani menulis bukan berarti semua tulisan harus langsung dipublikasikan tanpa diperiksa. Saya tetap perlu membaca ulang, memastikan informasi yang saya sampaikan benar, dan membuang bagian yang terasa berlebihan. Kalau ada yang belum saya pahami, saya bisa mengakuinya atau mencari tahu lebih dulu. Sesekali saya meminta bantuan untuk merapikan kalimat, lalu membacanya lagi: apakah ini masih terdengar seperti cara saya bercerita? Kalau terlalu jauh, saya ubah kembali.

Jadi, saya ingin berhenti menunggu sampai merasa pandai. Perasaan itu mungkin baru muncul setelah saya punya cukup banyak kesempatan untuk mencoba—dan bisa jadi, tetap akan ada tulisan yang membuat saya garuk-garuk kepala. Nggak apa-apa. Untuk sekarang, target saya sederhana: menyelesaikan satu tulisan, membacanya dengan teliti, lalu berani membagikannya. Besok masih bisa belajar lagi. Daripada blognya terus saya poles sementara isinya kosong, lebih baik mulai menulis, meskipun sambil sedikit malu, hehe…

Ruang komentar

Ada cerita atau pendapat? Yuk, ikut berbagi di sini.

Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!

Tulis komentar

Komentar akan tampil setelah disetujui admin.

TEBAK HASILNYA
49
Penjumlahan kecil sebelum berbagi cerita.