Ngeblog di Era AI, Masih Relevan Nggak, Sih?
Di akhir 2026, menjelang 2027, saya malah ingin mulai ngeblog. Padahal, sekarang orang bisa bertanya ke AI dan mendapat jawaban dalam hitungan detik. Mau bikin tulisan pun tinggal mengetik perintah. Lalu, buat apa repot-repot punya blog? Pertanyaan itu sempat muncul di kepala saya. Tapi kalau dipikir lagi, alasan saya ingin ngeblog sebenarnya sederhana: saya ingin punya tempat sendiri untuk bercerita.
Menurut saya, ngeblog masih relevan. Hanya saja, cara kita melihat dan mengembangkan blog mungkin perlu ikut berubah. Dulu, kita sibuk memikirkan cara mendatangkan pengunjung. Sekarang, selain ingin dibaca orang, kita juga mulai bertanya apakah tulisan kita bisa menjadi sumber rujukan bagi AI.
Kalau suatu saat tulisan saya bisa menjadi rujukan, tentu menyenangkan. Tapi untuk sekarang, saya ingin mulai dari sesuatu yang lebih dekat: menulis hal yang berguna, enak dibaca, dan punya sedikit cerita dari pengalaman saya sendiri. Lagipula, blog yang berkualitas nggak harus selalu membahas hal-hal serius. Cerita sehari-hari pun bisa bikin kita betah membaca. Kadang, yang membuat kita kembali ke sebuah blog adalah cara penulisnya bercerita.
Rasanya seperti mendengarkan teman ngobrol: topiknya bisa macam-macam, tapi kita menikmati obrolannya. Saya sendiri terinspirasi untuk menulis ini setelah membaca blog Mas Agus Mulyadi. Selesai membaca satu tulisan, sering muncul keinginan untuk membaca tulisan lainnya. Lalu saya berpikir, sepertinya menyenangkan juga kalau bisa punya tempat untuk bercerita seperti itu. Bukan cuma tulisannya, tampilan blog beliau yang sederhana juga bikin saya tertarik. Nggak banyak hiasan, nyaman dibaca, dan perhatian kita langsung tertuju pada ceritanya. Saking sukanya, tampilan blog beliau saya jadikan inspirasi untuk blog ini.
Maaf ya, Mas Agus, tampilannya saya tiru, hehe…
Mas Agus sudah menulis buku. Sementara saya masih seorang programmer web pemula yang juga ingin belajar menulis. Urusan membuat website saja masih banyak yang perlu saya pelajari, sekarang malah menambah pekerjaan sendiri: mengisi websitenya dengan tulisan. Tapi mungkin justru itu bagian yang menyenangkan. Saya bisa belajar membuat tempatnya, sekaligus belajar merangkai cerita di dalamnya.
AI mungkin bisa membantu saya merapikan kalimat atau mencari ide. Namun, pengalaman yang ingin saya ceritakan tetap perlu saya jalani sendiri. Salah langkah saat belajar, senangnya ketika program akhirnya berjalan, atau pikiran iseng yang muncul setelah membaca blog orang lain—semuanya bisa menjadi bahan tulisan.
Jadi, masih relevankah ngeblog di era AI? Buat saya, masih. Setidaknya, blog ini bisa menjadi tempat menyimpan proses belajar dan cerita yang sayang kalau hanya lewat di kepala.
Saya belum tahu nanti siapa yang akan membaca. Mudah-mudahan ada yang merasa terbantu, terhibur, atau sekadar betah mampir sebentar. Kalau belum ada, ya saya tetap punya alasan untuk melanjutkan: masih banyak yang ingin saya pelajari dan ceritakan. Daripada menunggu sampai pandai menulis, saya mulai saja dulu. Anggap tulisan pertama ini sebagai ketukan pintu.
Halo, selamat datang di blog saya.
Ruang komentar
Ada cerita atau pendapat? Yuk, ikut berbagi di sini.
Belum ada komentar. Jadilah yang pertama berbagi pendapat!